Hari ini aku selesai membaca buku yang benar-benar menggedor kesadaranku. Judulnya mengingatkanku pada sesuatu yang selama ini aku hindari: "Lebih Baik Sendiri Daripada Kehilangan Harga Diri."
Aku duduk di sudut kamar, lampu meja menyala temaram, dan setiap halaman terasa seperti sedang bicara langsung padaku. Mungkin karena selama beberapa bulan terakhir, aku sedang berada di situasi yang persis seperti yang ditulis di buku ini.
Aku menemukan buku ini secara tidak sengaja. Di rak buku kecil paling bawah, sampulnya menarik perhatianku. Hitam polos dengan tulisan putih tebal:
"HARGA DIRI ADALAH BATAS YANG TIDAK BOLEH DIKORBANKAN"
Aku tersentak. Entah kenapa, kalimat itu seperti tamparan. Aku langsung membelinya tanpa pikir panjang. Mungkin karena akhir-akhir ini aku merasa ada yang salah dalam hidupku, tetapi tidak bisa mengatakannya dengan jelas
Ada satu bagian di buku yang benar-benar menghentikan langkahku. Penulisnya menulis:
"Ketika seseorang mulai mengorbankan harga dirinya demi hubungan, ia perlahan menghilang. Bukan dari kehidupan orang lain, tetapi dari kehidupannya sendiri."
Aku membacanya berulang kali. Tiga kali. Lalu lima kali. Dan setiap kali membacanya, aku seperti melihat diriku sendiri.
Selama ini, aku selalu berusaha keras untuk diterima. Di lingkaran pertemanan, di lingkungan, bahkan dalam hubungan yang sekarang aku jalani. Aku mengubah caraku bicara, memendam pendapat yang berbeda, dan tersenyum saat sebenarnya aku terluka.
Dan untuk apa? Untuk membuat orang lain nyaman. Untuk dianggap "baik." Untuk tidak ditinggalkan.
Malam ini, setelah membaca bab tentang "Tidak Semua Orang Akan Menyukaimu," aku teringat kejadian dua minggu lalu.
Aku dipanggil "terlalu sensitif" oleh seseorang yang aku anggap dekat. Aku hanya bilang bahwa perkataannya menyakitiku. Dan balasannya? Aku malah dianggap masalah karena tidak bisa menerima candaan.
Di buku itu tertulis:
"Mereka yang menyalahkanmu atas reaksimu terhadap perilaku mereka adalah orang-orang yang tidak pernah mau bertanggung jawab atas lukanya sendiri."
Aku menutup buku dan menangis. Bukan karena sedih. Tapi karena lega. Akhirnya ada yang mengatakan dengan jelas apa yang selama ini mengganjal di hatiku.