Pernah nggak sih kamu ngerasa, punya teman itu kayak punya playlist musik yang isinya lagu dari genre berbeda-beda? Ada yang kalem kayak lagu akustik, ada yang ribut kayak lagu metal, ada juga yang misterius kayak lagu indie yang cuma didengar 12 orang di Spotify. Nah, kurang lebih seperti itulah gambaran pepatah Jawa yang satu ini:
Bedo konco bedo cerito, bedo worno sing penging duwe konco,
Bedo pendapat awake dewe se duwe sahabat,
Bedo jalur sing penting awake dewe se sedulur,
Intiné pas seduluran iku sing penting ojo duwe sifat gatheti koyok Sengkuni.
Kalau diterjemahkan bebas: beda kawan beda cerita, beda warna buat yang punya banyak kawan, beda pendapat itu wajar kita punya sahabat, beda jalan yang penting kita tetap bersaudara. Intinya, dalam berteman jangan punya sifat licik kayak Sengkuni.
Teman Itu Seperti Menu Restoran Padang
Coba deh bayangin teman-temanmu sebagai lauk di rumah makan Padang. Ada rendang yang setia, ada dendeng yang bikin nagih, ada juga perkedel yang sederhana tapi selalu bikin kangen. Nggak mungkin kan kamu mau semua lauknya rendang? Bisa kolesterol. Nah, beda karakter teman itu justru yang bikin hidup berwarna. Ada yang jadi tempat curhat jam 2 pagi, ada yang jadi partner rebahan, ada yang jadi alarm darurat kalau kamu lagi males gerak.
Jadi kalau ada temanmu yang hobinya ngajak hiking sementara kamu lebih suka tidur 12 jam, ya nggak masalah. Beda jalur, yang penting tetap satu tujuan: bahagia bersama-sama (atau setidaknya sama-sama bahagia walau beda cara).
Beda Pendapat? Santai, Bro
Sahabat itu bukan berarti harus setuju 100% sama kamu. Kalau kamu bilang "bakso enak pakai kecap", terus dia bilang "bakso enak pakai sambal", ya nggak perlu ribut sampai unfollow. Beda pendapat itu justru tanda kalau kalian nyaman jadi diri sendiri. Yang bahaya itu kalau pendapatnya beda di depan, tapi di belakang ngomongnya lain. Nah, itu masuk kategori...
Sengkuni-Sengkuni Club: Jangan Sampai Jadi Member
Buat yang belum kenal, Sengkuni itu tokoh wayang yang terkenal pinter, licik, dan jago menghasut. Dia tuh kayak admin grup chat yang suka bikin drama, tapi mukanya kalem seolah nggak tahu apa-apa. Kalau di dunia nyata, Sengkuni itu tipe orang yang bilang "aku cuma kasih tahu lho ya" tapi isinya gosip level dewa.
Pesan pepatah ini sederhana banget sebenarnya: perbedaan itu wajar, yang nggak wajar itu kelicikan. Punya teman beda suku, beda agama, beda selera musik, beda fandom semua itu fine. Tapi kalau sudah main tikung-menikung, fitnah-fitnahan, atau tebar pesona di depan tapi menusuk dari belakang, itu sudah melampaui batas pertemanan. Itu bukan teman, itu karyawan tetap Sengkuni-Sengkuni Club.
Jadi, Apa Intinya?
Hidup ini terlalu singkat buat dibikin ribet sama drama pertemanan. Punya kawan banyak itu menyenangkan, punya sahabat sedikit itu berharga, dan punya saudara entah itu sedarah atau sejiwa itu anugerah. Beda cerita, beda warna, beda pendapat, beda jalur semua itu bumbu. Yang penting bumbunya jangan sampai bikin mual karena isinya kebohongan dan kelicikan.
Jadi, mari berteman dengan tulus. Kalau punya masalah, bicarakan. Kalau beda pendapat, hargai. Dan kalau ada temanmu yang mulai berperilaku kayak Sengkuni, ya... cukup dijauhkan pelan-pelan sambil bilang, "Kamu ini tokoh wayang, bukan teman."