Kepercayaan yang Tak Tergantikan

Sepatu yang Selamat, Kepercayaan yang Tak Tergantikan
Harap tunggu0 detik...
Gulir ke bawah dan klik Buka Tautan untuk tujuan
Selamat! Tautan Dihasilkan


Jadi ceritanya begini. Seorang mahasiswa IT sebut saja namanya Budi, walau mungkin nama aslinya lebih keren kayak "Kevin" atau "Alif" lagi jalan santai. Entah kenapa, dia berhenti di depan tukang sol sepatu langganan. Mungkin karena sepatunya lagi jebol, atau mungkin karena dia lagi pengen ngobrol sama orang yang nggak ngerti istilah machine learning.

Lalu, dengan percaya diri yang khas anak kuliahan semester lima yang baru selesai baca artikel teknologi, Budi ngomong:

"Pak, 10 tahun lagi pekerjaan Bapak hilang."

Gila nggak tuh? Bayangin aja, baru juga bangun tidur, udah dapet ramalan kiamat dari anak ingusan yang jaketnya masih bau keringat perpustakaan.

Tapi si Bapak tukang sol? Santai. Nggak marah. Nggak ngelempar sepatu. Dia cuma terus menjahit sambil nanya balik:

"Nak, kamu kuliah untuk apa?"

"Supaya punya pekerjaan, Pak."

"Bagus. Sekarang saya tanya, kalau pekerjaanmu yang diambil AI lebih dulu, kamu masih punya apa?"

Budi ketawa kecil. "Saya programmer, Pak. Saya yang bikin AI-nya."

Iya, Budi. Kamu yang bikin AI-nya. Kayak dulu ada tukang ketik yang bilang, "Santai aja, saya yang bikin mesin tiknya." Terus mesin tiknya diganti komputer. Terus komputer diganti laptop. Terus sekarang ada AI yang bisa ngetik sendiri. Sejarah emang suka ngeprank orang dengan cara yang paling nggak lucu.

Tawa Budi mulai hilang. Dia coba bertahan dengan senjata terakhir: "Tapi Pak, robot terbaru kan katanya bisa memperbaiki apa saja!"

Bapak tukang sol cuma ngangguk. Tenang. Kalem. Kayak guru BK yang udah dengerin seribu alasan siswa telat masuk sekolah. Lalu dia menyodorkan sepatu Budi yang jebol entah kapan Budi melepasnya, mungkin tadi dia duduk tanpa sadar dan bilang:

"Coba, siapa yang bisa menyelamatkan ini sebelum hujan sore nanti?"

Budi terdiam. Menatap sepatunya. Menatap Bapak tukang sol. Menatap langit yang mulai mendung. Menatap hidupnya yang ternyata nggak sehebat yang dia kira.

Lalu dia nanya pelan, hampir berbisik:

"Bapak tidak takut?"

"Takut," jawab Bapak tukang sol. "Tapi bukan pada mesin."

"Lalu pada apa?"

"Saya takut kalau suatu hari saya berhenti dipercaya."

Whoa. Plot twist. Tiba-tiba cerita tukang sol sepatu berubah jadi seminar motivasi.

"Selama ini orang datang bukan karena saya murah," lanjutnya sambil menjahit. "Mereka datang karena sepatu mereka pernah selamat di tangan saya."

Budi diam lama. Lama banget. Mungkin dia lagi mikirin hidupnya. Mungkin dia lagi mikirin utang kuiahnya. Mungkin dia lagi mikirin kenapa dia nggak pernah belajar ngejahit.

Dan di situ, pelan-pelan, dia mulai sadar sesuatu yang agak menyakitkan: semua yang dia pelajari di kampus bisa disalin. Coding? Bisa dipelajari AI. Algoritma? Bisa di-generate. Bahkan jawaban ujian pun sekarang bisa dicari di internet dalam 0,3 detik.

Tapi kepercayaan? Itu nggak bisa disalin. Itu nggak bisa di-copy-paste. Itu nggak bisa di-download.

Kamu bisa bikin AI yang bisa nulis puisi, bikin lagu, dan ngejawab pertanyaan filsafat. Tapi kamu nggak bisa bikin AI yang bikin orang percaya kalau sepatu mereka bakal selamat. Karena kepercayaan itu dibangun dari tahun ke tahun. Dari sepatu yang jebol dan dijahit dengan sabar. Dari janji "besok sore udah jadi, Nak" yang ditepati. Dari tangan yang kapalan dan hati yang nggak pernah bohong soal kualitas.

Sore itu, Budi pulang dengan sepatu yang udah diperbaiki. Jahitannya rapi. Nggak ada yang bisa nyangka kalau tadi sepatu itu jebol parah. Dan dia pulang dengan satu pertanyaan baru yang muter-muter di kepalanya:

"Apa yang membuat orang percaya padaku?"

Jadi, Apa Pelajarannya?

AI bisa mengambil tugas seseorang. Bisa banget. AI bisa nulis artikel, bikin desain, ngejawab email, bahkan bikin kode. Tapi AI nggak bisa mengambil kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.

Kamu bisa jadi programmer paling jago di dunia. Tapi kalau orang nggak percaya sama kamu nggak percaya sama integritasmu, sama janjimu, sama kualitas kerjamu ya percuma. Karena pada akhirnya, orang nggak cuma beli produk. Orang beli rasa aman. Orang beli keyakinan kalau masalah mereka bakal selesai.

Tukang sol sepatu tadi nggak punya gelar. Nggak punya LinkedIn. Nggak punya portfolio online. Tapi dia punya sesuatu yang lebih mahal: reputasi yang dibangun dengan tangan sendiri, jahitan demi jahitan, selama bertahun-tahun.

Jadi buat kamu yang lagi kuliah, yang lagi belajar coding, yang lagi bangga bisa bikin AI nggak ada salahnya kok. Terus belajar. Terus berkembang. Tapi jangan lupa satu hal:

Bangun kepercayaan. Karena itu satu-satunya hal yang nggak bisa di-generate sama mesin.

Dan kalau suatu hari kamu ngerasa pekerjaanmu terancam AI, coba deh dateng ke tukang sol sepatu terdekat. Nggak usah ngomong soal masa depan. Cukup lepas sepatu, minta dijahit, dan perhatikan cara dia bekerja.

Kamu mungkin bakal pulang dengan sepatu yang lebih baik, dan satu pelajaran hidup yang nggak ada di silabus kuliah mana pun.

Baca juga :

Posting Komentar

💬 Kolom Komentar

Silakan masuk menggunakan akun Google Anda.

Memuat komentar...

Subscribe

Kanal Media Sosial
Ikuti Kegiatan di Kanal Youtube Spasi Pagi
Oops!
Sepertinya ada yang salah dengan koneksi internet Anda. Harap sambungkan ke internet dan mulai menjelajah lagi.
AdBlock Detected!
Kami telah mendeteksi bahwa Anda menggunakan plugin pemblokiran iklan di browser Anda.
Pendapatan yang kami peroleh dari iklan digunakan untuk mengelola situs web ini, kami meminta Anda untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih di plugin pemblokiran iklan Anda.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.