Dalam model pendidikan seperti ini, isu air, lingkungan, dan ekosistem hanya hadir sebagai teks di buku pelajaran bukan sebagai realitas hidup yang dekat dengan keseharian murid. Sungai yang tercemar, mata air yang mengering, atau banjir tahunan tidak dipahami sebagai masalah sistemik, melainkan sekadar peristiwa alam biasa.
Dari Hafalan ke Ketidakpedulian
Anak yang sejak kecil terbiasa menerima doktrin tanpa diajak bertanya akan tumbuh menjadi pribadi yang pasif. Ia tahu definisi ekosistem, tetapi tidak merasa memiliki tanggung jawab terhadapnya. Ia hafal siklus air, tetapi tidak gelisah ketika melihat sungai dipenuhi sampah.
Ketika nalar kritis tidak dilatih, manusia mudah menganggap eksploitasi alam sebagai sesuatu yang wajar. Pembangunan tanpa batas diterima begitu saja. Kerusakan lingkungan dianggap harga yang pantas demi kemajuan. Pada titik inilah air dan ekosistem menjadi korban bukan karena ketidaktahuan, tetapi karena ketidakpekaan.
Pendidikan sebagai Ruang Membuka Wawasan
Pendidikan seharusnya tidak memutus murid dari realitas sosial dan ekologisnya. Sejak usia dini, anak perlu diajak mengamati lingkungan sekitar, berdialog, bertanya, dan menyimpulkan. Mengapa air di rumah bisa habis? Dari mana asal air bersih? Ke mana perginya sampah?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini melatih kesadaran bahwa manusia hidup dalam sistem yang saling terhubung. Air bukan sekadar sumber daya, melainkan penopang kehidupan. Alam bukan objek, tetapi mitra yang harus dijaga.
Peran Guru dan Sekolah
Guru bukan hanya penyampai materi, melainkan fasilitator berpikir. Kelas bukan sekadar ruang belajar, tetapi ruang berpikir. Ketika murid diajak berdiskusi, melakukan observasi lapangan, dan mengaitkan pelajaran dengan kehidupan nyata, pendidikan menjadi hidup.
Sekolah yang membuka wawasan akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peka secara ekologis. Mereka tidak sekadar tahu, tetapi peduli. Tidak hanya patuh, tetapi bertanggung jawab.
Menyelamatkan Masa Depan Lewat Pendidikan
Air dan ekosistem tidak rusak dalam semalam. Kerusakannya adalah akumulasi dari cara berpikir manusia yang dibentuk sejak lama. Maka, menyelamatkan lingkungan tidak cukup dengan kebijakan dan teknologi; ia harus dimulai dari pendidikan.
Pendidikan yang membebaskan pikiran, menumbuhkan empati, dan menghubungkan murid dengan realitas hidup adalah kunci. Sebab ketika pendidikan gagal membuka wawasan, alam yang pertama kali membayar harganya.
Dan ketika air habis serta ekosistem runtuh, barulah kita sadar: yang keliru bukan hanya cara kita membangun, tetapi cara kita mendidik.
